Kedurai Apem Kembali Digelar, Warga Bingin Kuning Sambut Meriah Acara Sakral Bernuansa Kegotong Royongan Yang Menjunjung Kearifan Lokal Ini Sukses Dilaksanakan, Ini Pesan Bijak  Dari Bupati Lebong

Beritabengkulu.id | Lebong,Tradisi Kedurai Apem merupakan salah satu warisan budaya yang kaya akan nilai-nilai sosial dan spiritual, yang masih dilestarikan oleh masyarakat di beberapa daerah di Indonesia. Ini bertujuan untuk mengkaji makna Kedurai Apem bagi masyarakat Bingin Kuning, Kabupaten Lebong, dengan fokus pada makna denotasi, konotasi, dan mitos yang terkandung dalam tradisi tersebut.

Tradisi ini didsarkan dari teori Roland Barthes untuk menganalisis makna-makna tersebut. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi.

Informan penelitian terdiri dari tokoh masyarakat, pemangku adat, serta warga yang terlibat dalam tradisi ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Kedurai Apem tidak hanya berfungsi sebagai bentuk syukur kepada Tuhan atas rezeki yang diberikan, tetapi juga sebagai sarana untuk mempererat hubungan sosial antarwarga.

Proses pelaksanaan tradisi ini melibatkan berbagai tahapan, mulai dari persiapan bahan-bahan apem, prosesi pembuatan, hingga acara puncak yang diiringi doa bersama. Setiap tahapan mengandung simbolisme yang mencerminkan nilai-nilai kearifan lokal dan keagamaan.

 Tradisi Kedurai Apem memiliki makna denotasi sebagai bentuk syukur kepada Tuhan atas rezeki yang diberikan. Secara konotatif, tradisi ini mempererat hubungan sosial antarwarga dan mencerminkan kebersamaan serta gotong-royong dalam masyarakat.

Selain itu, terdapat berbagai mitos yang melekat pada tradisi ini, Tradisi Kedurai Apem juga berperan penting dalam menjaga identitas budaya masyarakat serta sebagai media untuk mentransmisikan nilai-nilai luhur kepada generasi muda. Meskipun demikian, terdapat tantangan dalam pelestarian tradisi ini, seperti perubahan gaya hidup modern dan kurangnya minat generasi muda.

Tradisi ini merekomendasikan perlunya upaya lebih lanjut dalam edukasi budaya dan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan lembaga pendidikan untuk menjaga keberlanjutan tradisi Kedurai Apem.

Ritual Muang Apem berpusat di Desa Bungin, Kecamatan Bingin Kuning, Kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu. dilakukan pada Kamis 15 oktober 2026. Dalam prosesi ini diikuti oleh warga Desa Semelako, Bungin, Pungguk Pedaro dan Karang Dapo. Saat ini, tempat tersebut menjadi salah satu objek wisata yang menarik di Kabupaten Lebong yaitu wisata pasir Lebar (Sabo).

Ritual adat tersebut disepakati oleh empat desa yang telah dibentuk kelembagaannya yaitu “BAGO KEDURAI Muang/Mbes Apem Bingin Kuning”,melalui kesepakatan dan musyawarah bersama ke empat desa tersebut.

Kuncen dari ritual tersebut adalah harus asli dari desa Semelako (Ninik Kapli) dan Apem (kue apam) sebanyak 44 (4 kue apam Besar,40 kue apam Kecil), itupun harus dimasak oleh orang asli Semelako (Nenek Baya).

Prosesi ritual adat yang dipercaya untuk mengenang tenggelamnya kerajaan Trasmambang,tersebut dihadiri oleh, Bupati dan Wakil Bupati, Kejari Lebong, Ketua DPRD Lebong, Ketua BMA Lebong , Kapolres Lebong, Kapolsek Lebong Tengah , 7 Para Kades Tetangga Desa , Tuai Kutai Semelako Yuncik dan Kepsek TK Lestari Oni Baes serta Anak2 TK Lestari yang di Pimpin Oni Baes ikut tarian adat . Ada juga anak anak SD 29 kut membawak Tarian Adat Rejang, juga Siswa dari SMPN 09 Karang Anyar ikut menampilkan  tarian adat serta pencak silat adat Rejang

Bupati Lebong, menyampaikan,”Saya bangga dengan keberagaman adat budaya kita rejang,Disini kita berkumpul untuk menjalankan tradisi KEDURAI apem (Muang Apem). Ini adalah bagian dari adat dan budaya kita. Ini juga sebagai warisan dari para leluhur yang memiliki eksistensi besar dan perlu dilestarikan dan akan menjadi agenda kabupaten setiap tahunnya ,” Sampai Bupati dalam kata sambutannya

“Harapan kita Kedepan,akan kembali melestarikan, memberdayakan budaya adat istiadat kita seperti prosesi Muang apem ini,karena budaya itu,suatu identitas (harga Diri) kita,kalau bukan generasi kita siapa lagi yang akan memperdulikan adat budaya kita Lebong ini”.Tegasnya

“Apabila perlu untuk Kedepan kita undang dari luar daerah,kita buat semacam event,karena Lebong ini ingin maju.ini perlu kerja keras dan dukungan kita semua,sesuai dengan apa yang disampaikan pak bupati Bupati,Lebong”, ucapnya.

Pj Kepala Desa, Erwan  juga menambahkan, “kami selaku Kepala Desa sangat mendukung kegiatan adat dan budaya kita seperti KEDURAI apem ini,sehingga nantinya kita juga akan melestarikan adat budaya kita yang lainnya”, kata Kades

 “Melalui BMA (Badan Musyawarah Adat) ini, nantinya harapan kami akan ada binaan binaan sanggar adat budaya kita”.tegasnya

Ketua BMA  menjelaskan, “wajib hukumnya bagi anak rejang terutama Kabupaten Lebong untuk mengangkat harkat dan martabat adat dan budaya sendiri, amen coa ITE api igai Lok meker adat gen budayo ye Yo (kalau bukan kita siapa lagi yang akan memikirkan adat dan budaya kita ini)”.

“Prosesi KEDURAI apem ini adalah momentum yang bersejarah sekali, mari kita kawal dan kita angakat adat dan kebudayaan kita” jelas ketua BMA

Ketua pelaksana pada acara KEDURAI apem (Muang apem) juga menjelaskan, “tahun ini kita kembali membuat prosesi ini ramai seperti yang pernah dilakukan oleh Bupati pertama dulu bapak Dalhadi Umar,karena prosesi sakral ini adalah bentuk rasa kepedulian kita terhadap adat budaya kita yang hampir punah”.tutupnya.

Penulis : April Wilson [Adv]
Editor : Beritabengkulu
Copyrihgt@beritabengkulu2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *