Kemiripan Karakter 2 pemimpin Daerah..KDM dan Gusril Pausi.

KAUR – BERITA BENGKULU.ID,Di tengah padatnya agenda pemerintahan dan tanggung jawab besar yang mereka emban, dua pemimpin ini menunjukkan bahwa setinggi apa pun jabatan diraih, akar kehidupan tidak pernah mereka lupakan. Sosok yang dulu membimbing dengan sabar, menanamkan nilai, dan menuntun langkah kecil menuju masa depan—itulah guru.

Dedi Mulyadi
Sebagai Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi dikenal tegas dan dekat dengan rakyat. Namun di hadapan gurunya, ia kembali menjadi murid yang penuh hormat. Langkahnya memasuki rumah sang guru bukan sekadar kunjungan seremonial, melainkan perjalanan batin untuk menengok masa lalu, masa ketika ia ditempa dengan disiplin, nilai kejujuran, dan semangat pengabdian.
Dengan penuh takzim, ia menyalami tangan gurunya, menundukkan kepala, dan mengucap terima kasih atas setiap pelajaran yang dulu mungkin terasa sederhana, namun kini menjadi fondasi kepemimpinannya. Baginya, keberhasilan hari ini bukan hanya hasil kerja keras pribadi, tetapi buah dari doa dan bimbingan seorang guru yang tulus.

“Momen itu mengajarkan bahwa pemimpin besar adalah mereka yang tidak melupakan asal-usulnya”.

Begitu juga dengan Bupati Kaur Gusril Pausi,S.Sos.M.AP
Hal serupa dilakukannya. Di tengah kesibukan memimpin daerah, ia menyempatkan diri datang ke rumah gurunya. Bukan dengan protokoler yang kaku, melainkan dengan hati seorang murid yang rindu pada sosok pendidiknya.
Pertemuan itu penuh kehangatan. Senyum sang guru menyiratkan kebanggaan, melihat murid yang dulu duduk di bangku kelas kini mengemban amanah besar bagi masyarakat. Gusril Pausi menyadari, tanpa kesabaran gurunya dalam membimbing, mungkin ia tak akan berdiri di titik ini.
Kunjungan itu menjadi pesan kuat bagi generasi muda: jabatan boleh tinggi, tetapi adab harus lebih tinggi. Mengingat jasa guru bukan hanya tradisi, melainkan cerminan karakter dan kepribadian seorang pemimpin sejati.

Dua pemimpin, dua daerah, satu nilai yang sama: menghormati guru adalah menghormati akar perjuangan. Karena di balik setiap pemimpin hebat, selalu ada guru yang dengan sabar menanamkan ilmu, membangun karakter, dan mendoakan dalam diam. (NS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *