LEKAD S.AMRIN : Bumi Rafflesia Bengkulu“Ciri Khas Penamaan Bengkulu Berbasis Kesejarahan”

KAUR – BERITA BENGKULU.ID Mahasiswa dan masyarakat Bengkulu tergabung dalam Aliansi Bumi Rafflesia untuk seruan “Indonesaia Gelap” pada demo (24/2/2025) di Gedung DPRD Bengkulu tentu memiliki makna lain yang menarik. Terkait protes dan tuntutan terhadap kebijakan pemerintah pusat adalah persoalan nasional yang sedang dihadapi. Tapi, spesifikasi tentang Bengkulu terkait “Bumi Rafflesia” adalah pemaknaan yang luas untuk kepentingan lokal yang patut dibahas.

Saya, dan mungkin juga kita semua, masih teringat soal nama “Bumi Raflesia” yang di”gugat” Helmi Hasan saat menjadi Calon Gubernur (saat ini sudah Gubernur Bengkulu). Dia sangat ngotot bahwa nama Bumi Raflesia tidak pas untuk identitas nama Bengkulu, terkhusus kota Bengkulu. Dia selalu mengatakan lebih tepat sebagai bumi Merah Putih.

Topik ini saya katakan tidak hanya menarik, tetapi juga penting untuk dibincangkan. Karena arti sebuah nama selalu akan terkait dengan faktor fakta kesejarahan. Bahwa provinsi Bengkulu tidak bisa dipisahkan dengan akar sejarah dari masa lalu yang panjang.

Bagi masyarakat Bengkulu, tentu saja tidak bermaksud membanggakan nama Raffles sebagai seorang penjajah, dengan mengangkat nama “Bumi Rafflesia” pada setiap even, atau penamaan berbagai fasilitas dan property yang dibangun. Tetapi lebih mengingatkan terhadap kontribusi seorang Stanford Raffles yang cukup besar di Bengkulu.Ujar Lekad.

Peninggalan berupa hasil penelitian selama dia bertugas di Bengkulu, dari seorang ahli flora dunia, maka Raffles dan sahabatnya Arnold telah menemukan spesies bunga terbesar di dunia selalu berkembang sepanjang tahun di Bengkulu. Masyarakat menyebutnya bunga bangkai, bahasa latin disebut sebangsa amorphophalus titanium becc.

Selama tahun 1818 sampai 1824 di Bengkulu, bunga ini diteliti oleh Raffles dan Arnold sehingga dipublikasikan mendunia dengan nama bunga Rafflesia Arnoldi. Bunga ini terkenal terbesar di dunia atas dasar penelitian panjang Raffles selama di Bengkulu, dan membuat Bengkulu sangat terkenal di dunia.

Peninggalan menumental lain oleh pendahulu Raffles adalah Benteng Marlborough yang terbesar di dunia. Bahkan benteng di Madras India, jauh kalah besar dibanding benteng Fort Marlborough di Bengkulu, dengan arsiteknya yang sangat indah. Keberadaan Bengkulu baik dari sisi budaya, kekayaan sumber daya alam, telah terdokumen sangat rapi di perpustakaan London. Buku-buku tulisan Rafflesi selama di Jawa dan di Bengkulu, telah memperkenalkan provinsi Bengkulu ke belahana dunia. Dan selalu menjadi acuan para sejarawan.

Inilah makna dari faktor kesejarahan panjang provinsi Bengkulu, yang menjadi catatan penting bagi eksistensi Bumi Rafflesia yang tidak mungkin dipisahkan oleh apa pun.

Ada pun Helmi Hasan sebagai seorang Gubernur Bengkulu saat ini, mempunyai keinginan mengganti “Bumi Raffles” dengan Bumi Merah Putih, itu upayanya yang tidak akan bisa menghapus sejarah panjang Bengkulu, yang sudah termuat di literatur dunia. Apa lagi ditinjau dari sudut prosedur dan administrasi maka harus melalui mekanisme pengambilan keptusan yang disetujui berbagai pihak secara demokratis. Baik melalui proses kelembagaan pemerintah maupun kelembagaan adat yang ada di Bengkulu.

Dan yang perlu kita catat bahwa Merah Putih adalah sebuah nama yang telah dimiliki nasional, dengan mengambil latar sejarah bendera Merah Putih. Jadi Helmi Hasan tidak lebih hanya sebagai “peniru” dari ciptaan founding father yang telah menjadi milik semua bangsa Indonesia.

Sementara “Bumi Rafflesia” adalah ciri khas yang diambil dari latar belakang kesejarahan yang panjang, sudah ratusan tahun lalu. Dan kontribusi dari pelaku sejarah di Bengkulu tersebut tidak bisa dihapus begitu saja, karena sudah menjadi catatan dunia dalam literatur yang mereka ciptakan, Tutup Lekad.(NS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *